Rabu, 22 September 2010

New Projects

Suatu hari datang seorang teman bercerita kalau dirinya lagi bingung kejar setoran penyusunan skripsi. Intinya dia stuck kehabisa idea untuk cari bahan dan urusan ketik mengetik. Maklum aza udah ibu-ibu setengah baya. Ceritanya dia kuliah untuk cari status supaya lulus uji sertifikasi guru negri. Sementara kemampuan dia udah jauh menurun gag kek mbak-mbak mahasiswa yg masih kinyis-kinyis. Banyak faktorlah, usia, kegiatan sehari-hari yg menyita waktunya dan mungkin juga wawasan ybs kurang atau yang paling umum adalah malas.

Dia minta tolong carikan orang yang bisa bikinin skripsi tuntas tas tas... wah terdorong juga neh pikirku. Kenapa juga gag aku ambil kesempatan ini. Aku beranikan diri garap skripsi itung-itung udah lama neeh otaku gag dipake buat mikir-mikir yang ilmiah dan sistematik kekekekkek.. Dengan kepercayaan diri dan sedikit nekat tentunya dijiwai doa memohon pertolonganNya bismillah aku bisa selesaikan Bab I - Bab V, lengkap dengan kata pengantar hingga lampiran. Pokoke sepaket, tinggal maju sidang aza.

Pikiran bisnis menggoda, ini klien perdana, sukses.... kenapa juga gag dikembangkan?.. tuing.. tuing... *mulai mikir*.. OK ini peluang bagus!! aku bisa belajar, tambah pinter, dapat duit lagih he he he he.. Modalnya hanya seekor Lappy + jaringan internet.. punya dunk.. tapi yang terpenting adalah keinginan yang kuat untuk menulis dan menulis. Alhamdulillah sukses dengan klien perdana datang klien berikutnya. Biar lebih profesional perlu juga bikin web jasa pembuatan skripsi . Monggo silakan di klik bagi yang ingin tahu lebih jauh tentang bisnis baruku ini.

Penggemar Kue dan Jualan Kue

Nggak terasa ternyata sudah 1 tahun aku tidak otak-atik blog.. hiks hiks hiks. Kalau blog ini bisa ngomong pastinya dia akan bilang 'Jangan Biarkan Aku Menunggu, lihat neeh sampai jamuran'..

Sekarang ini aku lagi berfikir bagaimana supaya bisa settle dan exist sampai hari tua, jiyeeeeeh.

Sering kepikiran untuk mulai bisnis. Yang gampang dulu aza, biasanya datang dari hobby. Udah hampir 5 tahun belakangan ini hobby bikin kue bisa dapat penghasilan. Untuk hari-hari sukanya base on pesanan saja dari mulai kue kering, brownies sampai siomay. Waktu masih aktif di Lippo sering juga aku bawa ke kantor pasti laris manis. Kata mereka tastenya gag kalah sama buatan bakery ... hheh.. he.. he.. he..

Yang paling berasa ini kalau musim hari raya Lebaran, pesanan banyak sampai berlusin-lusin. Kebanyakan mereka pesan kue-kue klasik: nastar, kastengel, putri salju. Ada juga yang minta bikin choclatechip cookies, kelapa cookies. Lebaran tahun 2010 ini yang paling top, coz aku udah penya asisten yang mumpuni. Aku ajari PRT yang biasa ngasuh bocil-bocil untuk bikin kue. pertama perlu extra kesabaran untuk ngasih tahu caranya, tapi hasilnya worthed lah..

Asistenku menyiapkan bahan-bahannya, mengayak terigu, menyiapkan alat-alat, membersihkan oven. setelah itu aku mulai meracik bahan-bahannya, kocok mentega dan bikin adonan. Selanjutnya serahkan pada asisten untuk mencetak kue. Kebayangkan klo bikin nastar 5 resep (1000 gram butter) berapa lama nih tangan harus bulet-buletin ditambah peggel pinggang karna kelamaan duduk.. wkwkwkwkwk

Sempat kepikiran juga mau ikutan pameran, cuma belum berani karna diperlukan stock kue yang lumayan banyak, minimal 10 lusin. Sementara kapasitas aku + asisten sehari cuma sanggup bikin maksimal 9 toples, next time will be.

Banyak orang yang suka product aku dari mulai teman kantor, sodara, keluarga, tetangga, temen si ayah dll. Contohnya: mereka beli kue lebaran tapi hanya untuk konsumsi sendiri, bukan untuk disuguhkan ke tamu. Katanya sayang... buat tamu kasih aza kue toko yang murah meriah... *gubraks*. Sampai asistenku juga 'menyimpan' kue bikinannya di lemari baju katanya biar gag ketahuan anak-anak. Kalau anak-anak tahu bisa habis dalam sekejap, sementara kue lebaran yg ada di ruang tamu masih awet.

Segmentasi customer kadang bikin aku senewen. Untuk mereka yang upper middle class pasti udah tahu lah kalau kue enak itu pasti bahan bakunya juga gag main-main jadi mereaka gag pernah protes soal harga. Berapapun harga yang aku bandrol pasti bayar. Buat customer yg penasaran malah pengin bikin secara 'life' di rumahku. Yo wes kita kerjain bareng-bareng. Optionnya mereka bisa bawa bahan baku sendiri atau aku yang belikan. Alhamdulillah customer model begini kalau ngasih 'reimb uresement' bahan baku ngasih lebihnya banyak. Katanya buat
bayar gas sama tenaga.. weksssss.. tenaga???? hihihih ternyata aku di-upah..

Yang bikin gondok customer udik yg maunya apa2 muraaaaaaaaah, tapi pengin yg enak.. GGggrrrrrhhhhhh. Ada tetangga, ibu muda 1 anak. Mungkin dulunya dia gadis desa gag pernah jalan-jalan jadi gag tahu apa-apa. Dia bilang punya terigu 1 kilo dapat dari tempat suaminya kerja, minta tolong bikin kue nastar. Aku bilang ke dia bahwa aku gag punya stok selai, jadi aku minta dia bikin sendiri dan aku kasih tahu how to make it. Eeeeh dia nyerah katanya gag bisa.. Lha gimana seeh Bu? alasan anaknya kecil, repot dan gag pernah bikin.. Waduh ini mah namanya gag niat. Klo dia mau pasti bisa, huh dasar kamse.. Ya sudah bikin yg lain aza usulku. Eh dia kekeuh minta nastar. Aku kasih alternatif supaya bikin sama tetangga yg lain sesama tukang kue tapi dia keras kepala lagi minta made in aku. Trus dia tanya apakah aku punya stok nastar? kebetulan aku masih punya 2 toples, aku bilang harga rp. 50.000 tapi sama tetangga aku jual rp. 40.000 aza. Iiiihhh sebel mau marah rasanya! masak dia tawar nastar aku Rp. 50.000 dua toples... yang bener aza Bu!!! minta aza ama keluarga loe!

Terus terang aku senewen sama ni Ibu, ah dasar Ndeso, gag pernah beli kue enak di bakery/mall kali yeee, lu cari tuh hari gini nastar enak harga Rp. 25.000. Si ayah saran supaya aku 'ngalah' aza. Tolong bikin aza yg baru, beli bahan2 lagi nanti itung-itungan.. Ya sudah dengan terpaksa aku relakan stok selai nanas yg sedianya mo aku bikin buat Bu Tety-Cikupa. Aku janji sama diriku sendiri next time gag akan aku bikinin lagi klo dia request, mau bayar - gag mau pulang aza sono...

Kamis, 03 September 2009

Go Green - I Like Gardening Much

Hobi berkebun tepatnya memelihara tanaman sebenarnya masih baru buat aku. Waktu masih gadis dulu di rumah Uti yang lahannya memeng tidak seberapa tidak banyak tanaman yang bisa tumbuh di halaman. Ditambah lagi si Bapak yang nggak begitu suka di rumahnya banyak tanaman, katanya seperti semak (belukar?). Padahal bertolak belakang dengan kemauan Uti yang suka tanam ini dan itu... Kalau habis makan buah apa aja nggak lupa bijinya dilemparin ke sebuah pot yang mayan gede tempat menampung "buangan". Wlhasil satu pot itu isinya kayak gado-gado.. numbuh berbagai tanaman kecil, iya kecil lha wong baru numbuh dari biji. Bahasa kerennya pesemaian. Jambu, rambutan, lengkeng, cabai merah besar, tomat, papaya semua numbuh.. hehe kecuali kelapa tentunya.. kalau udah rada gedean baru deh dipindahin sama Uti ke tempat yang lebih layak buat tumbuh.

Kalo untuk tanaman hias Bapak hanya suka miara palem, ada palem merah, palem mini, palem kipas. Pokoke jenis palem yang kecil-kecil di pot. Trus aku juga ikut nambahain beberapa pohon yang aku hunting dari rumah Pak Dar di pondok Gede. Waktu itu aku sempet lho bawa anakan palem raja yang panjangnya hampir 2 meter.. naik motor berdua Antok.. wish pokoke akrobat naik motore. Alhamdulillah bibit tanaman yang aku bawa dari Pak Dar semuanya tumbuh. Tapi nggak lama hobiku ini terhempas... si Opik (adiku) berminat membuat kolam ikan... jadilah tanamanku dikorbankan buat kolah.. hu..hu..hu.... dan akupun sibuk nggak pernah mainan tanaman lagi..

Niat ngerumat tanaman mulai ada ketika punya rumah sendiri. Dulu waktu masih ngontrak ada juga beberapa tanaman yang aku pelihara tapi bukan punya aku, peninggalan yang punya rumah. Nggak ada yang istimewa hanya tanaman perdu biasa yang perlu dipangkas secara periodik. Biasanya ini kerjaan si ayah. Dia niat bawa gunting tanaman yang di PWT ke JKT untuk bereskan halaman. Cita-citaku punya rumah dengan halaman yang cukup untuk berkebun tapi ternyata lahan di rumah yang baru pun nggak seberapa dibandingkan dengan halaman rumah Uti dulu. Tapi aku tetap bersyukur, masih ada lahan untuk serapan air dan teras yang cukup luas untuk memajang pot-pot cantik dan halaman belakang.


Donacarmen

Donacarmen warna hijau

Di atas adalah koleksi tanaman pertamaku. Waktu itu Aglaonema lagi mau booming. Berbagai tanaman ini muncul variant barunya tentu dengan harga yang tidak murah. Aku hanya beli yang variant biasa saja 1 anakan kecil berisi 5 daun. kalo nggak salah harganya Rp. 20.000. Aku pelihara selama 2 tahun sosoknya berubah jadi groomy beranak pinak seperti yang terlihat di photo. Kalo nggak salah hitung udah 4 kali re-potting. Kenapa anakan-nya nggak dipisahkan saja taro di pot yang lebih kecil?... wah no way.. buatku untuk apa miara sampai 2 pot atau lebih untuk variant yang sama? aku lebih suka tanamanku ngumpul serumpun dalam 1 pot. Pertimbangannya kembali ke luas halaman rumahku yang nggak seberapa itu. Andai aku punya halaman yang lebih luasmungkin lain lagi ceritanya. Aku baru memisahkan anakan kalau ada yang mau barter dengan variant baru yang belum aku punya, fair khan?

Aku suka lihat orang juala tanaman di pinggir jalan, kalau pas ada yang bagus dan harga terjangkau suka beli juga seeh. Lama-lama kok aku tertarik dengan si tanaman SRI REJEKI ini. Aku ingin mengoleksi beberapa jenisnya, jadilah teras rumahku semarak dengan aneka keluarga SRI REJEKI


Yang ini namanya Pride of Sumatra tapi orang dagang suka asal nyebut yang gampang Red Sumatra. Aku beli ini setahun yang lalu dengan 5 daun. sampai sekarang juga masih segelintir daunnya karna pertumbuhannya lambat banget, udah gitu pernah kena kutu beberapa kali sehingga pertumbuhannya tidak optimal.


Yang ini namanya Snow White. Ini variant favourite dari jenis hijau. Pertumbuhannya bagus sekali. daunnya kompak majemuk dan sudah ada 3 anakan sehingga total ada 4 dengan induknya. Sudah re-potting 3 kali.

Please pay attention, kedua jenis Aglaonema adalah variant dari Butterfly. Yang daunnya banyak dan lancip-lancip aku beli di daerah Alam Sutra, yang daunnya jarang dan bulat-bulat dibawa dari desa tempat neneku tinggal nun jauh di Gentasari - Cilacap oleh-oleh dari Bulik Ela. Bulik mang-claim varian butterfly sesuai dengan nama yang diberikan sang bakul tanaman hias langganannya di Batu Raden. Aku sedang mananti kapan keduanya bisa mirip secara keduanya dari variant yang sama.... mirip kah? Atau kalau nggak mirip mending aku kasih nama saja varaiant Lailatul Zahro... nama Bulik. hehe

Jenis lainnya seperti gambar-gambar tampak di atas adalah type Red Tiger, Lipstick, Bulu ayam dan Heng Heng



Untuk halaman belakan berhubung tidak ada lagi tanah yang tersisa dan kondisi yang banyak sinar matahari aku hiasi dengan bunga Euphorbia 3 jenis: Putih, Hijau dan Pink. Sekarang aku lagi cari jenis Euphorbia yang warnanya merah ngejreng tapi agak susah karan kebanyakan hanya peach atau orange saja.. hmm tinggal di wantex aja kalo gitu Buuu..


Di sudut halaman depan berjajar Lidah Mertua, Penginnya bikin taman tapi yang minim perawatan. Kalau temans ada yang mau bikin taman tapi sibuk si kelaurga Lidah Mertua ini paling cocok, gak perlu disiram tiap hari. Cahaya minim atau panas sekalipun dia bisa tumbuh. Jadi bisa buat taman indoor atau outdoor.

Ini sosok pot gantung yang lagi berbunga-bunga..


Yang terakhir ini koleksi Anthurium. Kebetulan aku punya jenis yang "nggak umum". Dapat dari Desa waktu pulang kampung, namanya Anthurium Air Mancur. Memang persis kayak air mancur karna pertumbuhan daunnya menjuntai ke bawah bak air mancur yang jatuh.